Mohamad Djabar Terlihat Ikuti UN padahal Dia Sudah Meninggal Dua Bulan Lalu


TrenzCorner - Kejadian mitis dialami Ayu seorang peserta ujian paket B di SMP Terbuka Satu yang ruang kelasnya berada di SMP N 1 Kota Kotamobagu. Sejak hari pertama pelaksanaan ujian nasional (UN) di Ruang 13,  Ayu sudah mengalami hal yang aneh.

"Pada waktu itu hari pertama saya masuk ruangan, saya lihat dia (Alm) sedang duduk. Awalnya perasaan saya biasa namun sudah merinding. Wajah pucatnya membuat saya tak tenang di dalam," ujar Ayu kepada Tribun Manado, Kamis (12/5) pagi. Ayu pun memilih untuk keluar ruangan, karena memang waktu itu hanya ada dia di dalam ruangan.

"Saya kemudian dengar dari pihak sekolah bahwa ada satu siswa yang tak bisa ikut Ujian Nasional karena meninggal dunia," ujarnya.

Selama empat hari sejak Senin (9/5) hingga Kamis (12/5), Ayu mengaku melihat siswa tersebut datang duduk di ruangan kelas. Tapi, itu hanya pada hari pertama dan hari keempat.

"Saya lihat dia hanya duduk diam menghadap kedepan pada hari pertama, pada hari keempat saya lihat hal yang sama, dan tangan kirinya diletakkan diatas soal UN di atas meja," ujarnya.

Sementara itu pihak SMP Terbuka 1 mengatakan bahwa memang benar ada satu siswa yang mengalami kecelakaan dua bulan sebelum pelaksanaan ujian nasional.

Siswa laki-laki tersebut bernama Mohamad Djabar Mokoginta, kelahiran Pontodon 2 Februari 2000.

"Memang ada satu siswa yang meninggal dunia. Namun sebelumnya dia sudah memiliki nomor peserta UN. Bulan januari 2016 sudah punya nomor ujian nasional. Dia itu siswa di SMP Terbuka," ujar Kepala Sekolah SMP N 1 Sande Makalalag.

Bangku tempat duduknya pun dibiarkan pihak sekolah dalam keadaan kosong. Namun tetap diberikan soal ujian nasional. Waktu itu ujian mid semester telah berlalu.

"Langsung diumumkan di sekolah saat itu. Baca doa bersama," ujar Rita Tabo, Pegawai Tata Usaha sekaligus guru pamong terbuka.

Lanjut Rita saat mengalami kecelakaan satu siswa tersebut sempat sulit ditemukan di lokasi yakni jalan antara Desa Pontodon Timur dan Pangian.

"Karena saat kecelakaan itu listrik padam, suasana gelap. Dia celaka bersama dengan temannya. Dia terlempar jauh, saat temannya sudah dibawa ke rumah sakit sekitar 10 menit baru dia ditemukan warga," ujar Rita.

Lanjut Rita siswa tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Datoe Binangkang laju sempat dirujuk di Rumah Sakit Kandouw Manado.

"Selama lima hari dirawat disana, semua alat dipasang, namun tak bisa menyelamatkannya dia kemudian meninggal dunia di Manado," ujarnya.




Sumber : http://www.tribunnews.com